Peringatan Bulan Bahasa Siswa MAN Karangasem

Pandemi Covid 19 tidak membuat surut siswa MAN Karangasem untuk melakukan aktivitas yang bersifat edukasi. lomba penulisan cerita humor atau anekdot tentang pandemic covid 19 saat ini, merupakan tantangan bagi siswa untuk memeriahkan Bulan Bahasa tahun 2020 yang dilakukan secara Daring. Meningkatkan kualitas literasi siswa MAN Karangasem dan memberikan aktivitas yang edikatif bagi siswa MAN Karangasem merupakan tujuan dari kegiatan ini   Siswa mengirim karya humornya melalui aplikasi Whats Up dengan link yang telah disediakan panitia dari tanggal 3 Oktober sampai dengan 31 Oktober 2020.

Berikut adalah pemenang dan hadiah yang disediakan panitia . Kami sajikan juga hasil  karya cerita humor  para pemenang.

Hasil Penilaian  lomba penulisan cerita humor dalam rangka Bulan Bahasa MAN Karangasem yang diselenggarakan Kerjasama Pepustakaan dan Kesiswaan MAN Karangasem. Berikut adalah para pemenang lomba. Hadiah dapat diambil di Perpustakaan pada jam kerja.

Juara

X

Nilai

XI

Nilai

XII

Nilai

1

Eva Latifa X IPS 1

90

Anita Nur Azzeti XI IPA 1

85

Yeni Cahyaningsih XII IPA 3

 90

2

Rani Ramadhani X IPA 3

80

Alifia Salsabila XI IPA 2

84

 

 

3

Nizar maulana X IPA 3

60

Feni Ariska XI IPA 3

80

 

 

Berikut adalah nominal hadiah bagi para juara

 

Juara 1

Rp. 80.000

 

Juara 2

Rp. 60.000

 

Juara 3

Rp. 50.000

Selamat bagi para Juara,, terimakasih atas partisipasi semua peserta dan  support para wali kelas  dalam lomba ini.

 Berikut adalah karya tulisan Humor Para siswa yang memenangkan lomba ini.


Mahkota Peri

Oleh Yeni Cahya Ningsih XII IPA 3

 

                Pada suatu hari, selepas hujan deras, antara ibu dan anaknya yang masih duduk di kelas

  3 Sekolah Dasar tengah duduk bersantai.  

       Sebuah percakapan kecil terjadi di kamar kecil rumah mereka. Anaknya, mengeluhkan mengapa Virus Covid-19 tak kunjung pergi dari bumi pertiwi ini, padahal sudah hampir satu tahun kehidupan manusia ditemani oleh virus yang tak tahu diri ini. Anak itu berkata kepada ibunya,

     ‘’Bu, kira-kira sampai kapan ya virus Covid-19 ini menghantui kehidupan manusia?’’    

       Ibunya menjawab,’’Ibu juga tidak tahu Nak, akan tetapi kita harus tetap  tawakal dan terus berdoa agar pandemi ini bisa cepat berlalu.’’

      ‘’Baik Bu, oh iya Bu, bagaimana bentuk dari virus covid-19 ini ya?’’tanya anak kepada ibunya.

 “ Begini Nak, bentuk virus corona ini menyerupai mahkota, sedang penyakit yang disebabkan SARS-CoV-2 disebut covid-19.’’begitu jawab ibunya.

‘’Berarti mahkota yang dipakai para peri seperti yang di cerita – cerita  itu virus corona ya, Bu?’’tanya anaknya sambil memasang wajah yang serius.

  Ibunya terkekeh mendengar perkataan anaknya  sambil mengatakan,’’ Bukan begitu maksud ibu, Nak! virus corona memang menyerupai mahkota, jadi bukan berarti mahkotanya yang menjadi virus corona.

 ‘’ Oh begitu ya, Bu? jawab anaknya sambil tertawa pelan. Anak itu kembali berkata kepada ibunya,’’Ibu aku lupa bercerita pada ibu.

  ‘’Mau bercerita apa, Nak?” tanya ibunya.

Begini Bu, kemarin aku diajak paman  pergi ke indomaret, dan ibu tau tidak? untuk pertama kalinya aku pergi ke indomaret melihat kasir indomaretnya di tutup oleh tirai, jadi berasa main Superdeal 2 milyar,  Bu.’’ kata anaknya dengan wajah yang menggemaskan.

  Lagi-lagi ibunya harus tertawa mendengar cerita anaknya itu, ibunya pun menjawab,

  ‘’Kamu ini ada ada saja, Nak! tetapi hal tersebut memang merupakan salah satu cara pencegahan dan perlindungan supaya kita tidak tertular dari adanya virus corona ini.’’Maka dari itu kita juga harus tetap mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditentukan oleh pemerintah ya, Nak!’’

Ternyata begitu ya, Bu?’’tanya anak kepada ibunya.

 ‘’Iya Nak, memang harus begitu, dan kamu juga harus ingat selalu  pesan ibu yaitu dengan cara menerapakan 3 M, yang pertama memakai masker jika hendak pergi keluar rumah, mencuci tangan pakai sabun dan jangan lupa menjaga jarak.’’


Nama : Alifia Salsabila Putri

Kelas : XI IPA 2

Judul Cerita : LAPAR ITU ANTONIMNYA MAKAN

                                                       

PROLOG

Bu Ipeh adalah Guru Bahasa Indonesia, beliau humble dan periang. Tapi, jika anak muridnya susah diatur, beliau akan marah besar.

Inem adalah anak murid yang pintar dan penurut, sedikit petakilan tetapi bisa di atur. Termasuk juga dalam golongan ijo lumut (ikatan jomblo lucu dan imut)

Sri adalah ketua geng ijo lumut, dan termasuk anak yang paling banyak mendapatkan informasi (ghibahah), tak lupa juga ia adalah anak yang pandai.

Juminten adalah anak yang kalem dan pintar, tidak termasuk geng ijo lumut karena dia punya simpanan, dia memang kalem dan tak banyak berbicara tetapi sekalinya ia bicara, mungkin es di Greenland akan mencair dalam sekejap.

Panjul adalah satu satunya lelaki di kelas yang hobi nya menggosip, banyak bicara dan tukang contek pula. Setiap ulangan, ia akan menulis jawaban di kertas menggunakan bahasa arab, dan jika ketahuan oleh guru, dia akan mengatakan bahwa itu adalah doa bukan jawaban.

Yanto adalah murid lelaki yang sangat moodyan, sepeti perempuan yang sedang pms saja. Ya memang begitu, terkadang ia menjadi sangat pendiam, terkadang juga ia bahkan melebihi orang yang kerasukan jin saking tak bisa diam nya.

Ijul adalah murid lelaki tertampan di kelas, tetapi juga penggaduh kelas. Jika tak ada ia, maka kelas akan menjadi tempat ternyaman, teraman dan tertentram dari teriakan tarzannya.

Langsung aja move ke cerita nya, let’s go !! Yuhu..

*ting (dering handphone berbunyi)

Inem segera bangkit dari tempat tidur nya untuk mengambil handphonenya yang di letakkan di atas meja belajar. Ternyata itu adalah pesan dari guru nya yang memberitahukan bahwa materi besok adalah tentang antonim.

Setelah membuka pesan dari guru nya, Inem pun segera merapikan buku pelajaran yang akan ia bawa esok hari. Lalu Inem segera menuju ke tempat tidur nya, dan langsung membaringkan diri. Inem pun siap menjelajahi bunga tidur nya.

Keesokan harinya.

Mentari mulai menampakkan diri nya, tak lupa juga dengan kukukan merdu dari ayam yang akan membangunkan setiap insan yang masih terlelap di balik hangatnya selimut. Gedoran ibu dari balik pintu pun sukses  menjadikan penyempurna dari bumbu cerita pagi ini.

Ibu pun segera masuk setelah lelah menggedor pintu yang tak kunjung di buka oleh pemiliknya. Dengan perlahan namun pasti, ibu menyingkap selimut yang menghangatkan badan Inem. Tak lupa juga membuka gorde dengan selebar lebarnya.

Karena sorootan matahari yang mengganggu, Inem pun terbangun dengan malas nya.

“ayo nduk, udah jam 6 ini lho! Kamu ga sekolah ta?” Tanya ibu.

“iya bu, 5 menit lagi” Jawab Inem lesu.

“ndak ndak, ini sudah telat. Ayo bangun, ga usah alasan lagi” Titah ibu dengan nada medok nya.

“Ugghhh iya iya bu” Lenguh Inem dengan malas.

Inem pun segera mandi.

Setelah semua hal siap, Inem pun berangkat ke sekolahnya menggunakan sepeda ontel. Tak lupa ia juga menjemput Sri, Juminten, Panjul dan Yanto untuk berangkat bersama.

Singkat cerita, Inem dan kawan kawannya telah sampai di sekolah dan bergegas menuju kelas.

Inem pun duduk dan menata keperluan belajarnya. merasa guru mereka tak kunjung datang, akhirnya Inem pun merumpi bersama teman teman nya.

“Eh, tau ga. Si Jijah pas ulangan bahasa Indonesia ternyata nyontek, tau!!” Tutur Sri.

“Masa sih? Pantes aja nilainya dia paling tinggi” Balas Panjul.

“Denger denger sih dia di bantu sa….” Percakapan kami terpotong oleh teriakan tarzan dari Ijul.

“WOI BU IPEH DATENG WOI” TERIAK IJUL.

Kelas yang tadi nya rebut seperti pasar ikan pun diam seribu bahasa dalam sekejap mata.

“Assalamualaikum anak anak. Hello everybody! Gimana kabar kalian? Sehat semua kan?” Sapa Bu Ipeh sambil melambaikan tangan manjah.

“Waalaikumsalam,  Alhamdulillah luar biasa tetap semangat oke oke Allahu Akbar” Sahut para muted dengan kompak.

Bu Ipeh pun memberikan titah “Oke anak anak sebelum kita memulai pembelajaran, mari kita berdoa terlebih dahulu. Silahkan Panjul ayo di pimpin kawan kawan nya”

“Duduk siap, sikap berdoa berdoa mulai”

“Bismillahirrahmanirrahim ......”

“Berdoa selesai”

Ketika Bu Ipeh sibuk mengeluarkan bahan ajar, Inem terlihat asyik mengetik kalkulator dengan iseng. Lalu menempelkannya ke dekat telinga nya, seolah olah sedang menelpon. Tak di sadari, bahwa Bu Ipeh memperhatikan nya sedari tadi.

“Eh itu..” Kejut Bu Ipeh.

“woi Nem!!”

Mendengar ada bisikan ga jelas, Inem pun berbalik badan kearah Yanto.

“Apa sih?”

Yanto pun menunjuk kearah Bu Ipeh “Itu Bu Ipeh”.

Inem pun menoleh. Seakan tau maksud Bu Ipeh, Inem pun menyengir dan menunjukkan kalkulator milik nya.

“Kalkulator bu. Hehehe…” Ucap Inem agak berteriak agar Bu Ipeh dengar.

Bu ipeh pun ikut tersenyum sedikit tertawa karena merasa malu. Pembelajaran pun dimulai.

“Anak anak hari ini adalah pelajaran tentang antonim ya” Kata Bu Ipeh.

“Iya bu” Jawab semua murid dengan kompak.

“Sudah siap semua”

“Sudah”

“ANTONIM. Sudah tau apa arti Antonym?”

“Aduh, ga tau lah saya bu” Jawab Ijul dengan malas.

“Antonim adalah perlawanan kata. Jadi apa saja yang ada di dunia ini, semua ada lawannya. Misalnya, langit lawan nya bumi. Kalo siang, lawannya malam. Mengerti?”

“Mengerti bu”

“Baiklah, kalo begitu ibu akan mengecek. Apa saja yang ibu ucapkan, tolong kalian jawab ya lawan katanya”

Para murid menjawab dengan anggukan.

“Langsung saja, pandai”

“Bodoh”

“Tinggi”

“Rendah”

“Jauh”

“Dekat”

“Pergi”

“Pulang”

“Lapar”

“Makan”

“Kok makan?”

“Kok lapar?”

“Itu salah anak anak!”

“Itu betul ibu guru!”

“Murid bodoh”

“Guru pintar”

“Ini bukan petanyaan bodoh”

“Itu bukan jawaban pintar”

“Sudah sudah”

“Belum belum”

“Cukup cukup”

“Kurang kurang”

“Kenapa kalian bodoh sekali hah”

“Sebab kami pandai sekali hah”

“Oooo melawan ya”

“Ooo mengalah tidak”

“Anak murid kurang ajar”

“Ibu guru lebih ajar”

“Diam”

“Ribut”

“Oke, pelajaran sudah selesai”

“Ga mau, pelajaran belum dimulai”

“Keluar keluar”

“Masuk masuk”

“Bubar bubar”

“Kumpul kumpul”

“Kalo seperti ini, kapan selesainya anak murid”

“Kalo seperti itu, kapan mulai nya ibu guru”

“Payah kalian”

“Mudah bu guru”

“Ngelawan kalian”

“Mengalah bu guru”

“Pergi pergi”

“Pulang pulang”

“Sakit hati ibu”

“Sehat hati kami”

“Matilah kalian”

“Hidup lah ibu”

“Murid tidak berguna”

“Guru iya berjasa”

“Biar ibu pergi”

“Biar kami tinggal”

“Besok, ibu panggil bapak kalian”

“Wlee wlee”

Singkat cerita, mereka pun datang ke ruang guru secara bersamaan. Dan memberi sedikit kejutan. Ternyata, Bu Ipeh sedang berulang tahun, makanya deh mereka iseng membuat Bu Ipeh jengkel. Bu Ipeh pun bahagia, dan sedikit menitikan air mata.

TAMAT

Begitulah cerita singkat ini, semoga terhibur dan maaf apabila ada perketikan yang sedikit menyinggung. Terimakasih<3


ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH...

NAMA: FENNY ARIKA

KELAS: XI MIPA 3

 

Kesalahpahaman "Jaga Jarak"

Siang hari, Hanum disuruh ibunya untuk membeli keperluan dapur di warung bik ijah. Disana, Hanum tidak sengaja bertemu Andina yang juga sedang membeli sesuatu.

Andina:"Eh ada Hanum, beli apa kamu?"(sambil mendekati Hanum)

Hanum:"Eh ndin, gak boleh deket-deket,harus jaga jarak minimal 1 meter, okeee!!!."

Andina:"Ah kamu num, sok banget si sekarang, tenang aja aku itu baru habis mandi, jadi aku itu masih wangi kok, gak bau kambing pesing kayak kamu,wkwk."

Hanum:"Yah, kok jadi sinis gitu, siapa juga yang bilang kamu bau

Mbee...eekk (bunyi suara kambing yang sedang makan di sebelah warung bik Ijah) hingga membuat suara Hanum terputus secara tiba-tiba.

Hanum:"Nah bau mbee..eeekk, eh kambing pesing wkwk, aku bilang gitu karna jaga jarak itu kan udah jadi aturan pemerintah saat ini, dan sekarang negara kita bahkan dunia sedang sama-sama bergerak melawan pandemi covid 19 yang belum juga teratasi. Kamu paham itu gak? Oiya jangan-jangan kamu itu kayak orang-orang bermuka tebal di luar sana ya, yang gak pernah taat sama aturan pemerintah, gak pernah jera walaupun udah di sanksi berjuta-juta sanksi."

Andina:"Kejam banget si Hanum ih."

 

Hanum:"Ya bener kan, muka-muka orang kayak mereka tuh lapisnya tebal, bahkan buku campbel olimpiade jilid 1 sampe jilid akhir bisa kalah tebal tuh sama muka mereka. Makanya mereka itu gak pernah malu terus-terusan berbuat hal yang ngelanggar."

Saat Hanum dan Andina semakin panjang kali lebar berdebat, tiba-tiba Bik Ijah menjadi pahlawan kesiangan yang berhasil menghentikan perdebatan antara mereka berdua yang berlangsung sejak tadi.

BikIjah:"Hanum, Andina udah nak, total belanjaan nak Hanum 25.000, nak Andina 40.000."

Hanum:"Eh iya bik,berapa juta? Eh ribu maksudnya bik hehe... (blalakan karna teringat pembahasan saat debat tadi)

BikIjah:"Hanum, 25.000 saja ya nak, moso cuma beli kangkung, tempe sama cabe sampe jutaan, bik ijah menang banyak nanti nak hehe..."

Andina:"Tapi kalo kangkung, tempe sama cabe nya di bayar jutaan mau kan bik? Iyakan?"

BikIjah:"Yo mau lah nak."

Hanum:"Ealah, aku yang rugi buaaanyak kalo gitu bikkk."

BikIjah:"Hehe...gapapa sekali-kali num."

Andina:"Yaudah, aku pulang dulu ya bik, num, Assalamu'alaikum."

Hanum dan BikIjah:"Waalaikumsalam."

 

Hanum:"Aku juga pulang ya bik, BYEEE..."

BikIjah:"Astaghfirullah,anak 2 kalo belanja ribet buangettt,pusing pala bik ijah."(sambil bergaya pusing pala barbie versi asli).

SEKIAN...

WASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH...


By: Nizar maulana azhari

 X MIPA 3

 

Pada suatu hari yang terik dan panas di tengah-tengah pandemi corona. Ada seorang ibu yang mengandung dan mau melahirkan . Ibu itu bersama suaminya bingung ingin memberikan nama kepada anak nya.

Ibu:  Pak ., anak kita di beri nama  apa ya.? 🤔

Ibu: pak kasi nama KAMISAN aja ya anak kita ya?

Bapak: Kok  Kamisan  si buk?

Ibu: Iya, karena  kita nikah nya kan hari Kamis pak, mangkaknya nama anak kita  kamisan

Bapak: Terus kamisan itu apa maknanya? Bu.

Ibu: Kamisan itu artinya " KENANGAN INDAH TERLALU MANIS" Wkwkkwk🤣🤣🤣

Bapak: Ahh, ibu bisa aja!! 😅

Bapak: Bu bagaimana kalau anak kita di beri nama pandemi yang terjadi saat ini bu? 😁

Ibu : apa tu pak?

Bapak: corona buk 😄

Ibu: kenapa di namain  korona pak?

Bapak : iya karena anak kita lahir nya saat  pandemi corona mangkaknya di beri nama corona. Bagaimana ibu setuju?

Ibu : oke ibu setuju

Bapak: oke kita akan beri nama dia VAIRUS ABDUL COVID bagaimana setuju buk??

Ibu : oke ibu sangat setuju pak😁👍👍